BERPIKIR KOMPUTASIONAL
INFORMATIKA BAB 1
BERPIKIR KOMPUTASIONAL
DAFTAR ISI
A. Proposisi
B. Negasi/Ingkaran,Konjungsi,disjungsi,implikasi
C. Deduktif,Induktif, dan Abduktif
D. Logika Inferensi
E. Bilangan Desimal,Biner,dan Heksadesimal
F. Pemecahan Masalah (Problem Solving)
G. Prinsip Pemikiran Komputasional
Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu:
1. memahami dan menerapkan proposisi, negasi/ingkaran, konjungsi, disjungsi, implikasi, deduktif, induktif, abduktif, dan
inferensi;
2. mengonversi antarsistem bilangan (desimal, biner, heksadesimal);
3. mengasah keterampilan problem solving yang efektif, efisien, dan optimal sebagai landasan untuk menghasilkan solusi dengan
menerapkan penalaran kritis, kreatif, dan mandiri;
4. menerapkan strategi algoritmik standar untuk menghasilkan
beberapa solusi persoalan dengan data diskrit bervolume tidak
kecil pada kehidupan sehari-hari dengan pendekatan
dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma maupun
penerapannya dalam program komputer.
A. Proposisi
Proposisi adalah pemyataan yang hanya bernilai benar atau
salah saja sehingga tidak mungkin ada pernyataan bemilai benar
dan salah. Kalimat yang bernilai benar atau salah dalam
proposisi disebut dengan nilai kebenaran (truth value). Dalam
ilmu komputer, proposisi digunakan untuk merancang sistem
atau program yang dapat bekerja dengan baik, efisien, dan tepat. Selain di dalam ilmu komputer, proposisi juga digunakan dalam
bidang matematika dan filosofi untuk membantu dalam proses
penalaran dan pembuktian. Pernyataan dalam proposisi sering
dinyatakan dengan huruf-huruf kecil, misalnya, p, q, B. Negasi/Ingkaran, Konjungsi, Disjungsi, Implikasi
1. Negasi/Ingkaran
Negasi adalan sebuah pernyataan yang meniadakan pernyataan
yang ada. Pernyataan ini dapat dibentuk dengan menulis "adalah
salah bahwa...". "adalah salah bahwa..." atau dengan
menyisipkan kata "tidak" atau "bukan" dalam sebuah pernyataan. Dalam logika matematika, negasi ditandai dengan simbol "~". Contoh:
p Setelah hari Rabu adalah hari Kamis. ~p Setelah hari Rabu bukan hari Kamis. 2. Konjungsi
Konjungsi adalah pernyataan majemuk dari dua pernyataan
dengan kata penghubung "dan". Notasi konjungsi dinyatakan
dengan simbol "A". Konjungsi hanya akan bernilai benar jika
kedua pernyataan benar. Contoh:
p = Monitor merupakan salah satu contoh perangkat keluaran
komputer. (Benar) q = Contoh perangkat keluaran komputer
adalah printer. (Benar)
Konjungsi (pq) = Monitor dan printer adalah perangkat keluaran
komputer. (Benar)
3. Disjungsi
Disjungsi adalah pernyataan menjemuk dari dua pernyataan
dengan kata penghubung "atau". Disjungsi dinyatakan dengan
simbol "v". Disjungsi bernilai benar jika salah satu pernyataan
bernilai benar. Contoh:
p = Menonton film bisa di bioskop. (Benar)
4. Implikasi
Implikasi adalah pernyataan majemuk yang menunjukkan
hubungan sebab-akibat. Pernyataan implikasi menggunakan kata hubung "jika" dan
"maka". Implikasi dinyatakan dengan simbol "→". Pernyataan
pertama disebut anteseden atau penyebab, sedangkan pemyataan
kedua disebut konsekuen atau akibat. Contoh:
p = Windows adalah sistem operasi. (Benar)
q = Windows sistem operasi berbasis CLI. (Salah)
Implikasi (pq) = Jika Windows adalah sistem operasi maka
Windows berbasis CLI. (Salah)
p q ~p(negasi dari nilai p) p٨q p٧q p->q
B B S B B B
B S S S B S
S B B S B B
S S B S S S
C. Deduktif, Induktif, dan Abduktif
Penalaran adalah proses kognitif untuk menyimpulkan informasi
baru dari informasi yang diberikan. Penalaran menghasilkan
pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan
dengan perasaan, Penalaran terdin atas tiga jenis metode, yaitu
deduktif, induktif, dan abduktif
1. Deduktif
Penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan yang dimulai
dari ide-ide umum atau premis untuk mencapai kesimpulan
khusus. Diperlukan pola pikir silogisme untuk menarik
Kesimpulan secara deduktif Pola pikir silogisme ini tersusun
dari dua buah pernyataan (premis) dan sebuah kesimpulan
(konklusi). Adapun macam-macam penalaran deduktif, sebagai
berikut. a. Silogisme
Silogisme adalah salah satu metode penalaran deduktif yang
digunakan untuk menarik kesimpulan dari dua premis. Silogisme terbagi menjadi dua, yaitu silogisme negatif dan
silogisme eror. 1) Silogisme negatif, yaitu setiap kalimat yang di dalamnya
terdapat kata "bukan" ataupun "tidak" pada premis dan
simpulan. silogisme. 2) Silogisme eror, yaitu kecermatan dalam menarik kesimpulan
menggunakan penalaran
b. Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung atau tanpa
silogisme premis atau tidak diucapkan karena sudah diketahui. Contoh penalaran deduktif entimen sebagai berikut. Premis 1. Orang yang terlambat masuk kelas harus meminta izin kepada
guru. Prernis 2: Dika terlambat masuk kelas. Konklusi: Dika harus meminta izin kepada guru. Entimen: Dika
harus meminta izin kepada guru karena terlambat masuk kelas. Entimen: Dika harus meminta izin kepada guru karena terlambat
masuk kelas. 2. Induktif
Penalaran induktif adalah metode berpikir yang digunakan
untuk menarik kesimpulan umum dari fakta atau bukti yang
bersifat khusus. Dalam proses ini, seseorang mengumpulkan
sejumlah bukti atau contoh spesifik dan kemudian menggunakan
informasi tersebut untuk membuat pernyataan atau kesimpulan
yang lebih umum. Contoh penalaran induktif, misalnya, manusia
membutuhkan makanan, hewan membutuhkan makanan, dan
tanaman membutuhkan makanan sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa setiap makhluk hidup membutuhkan
makanan. 3. Abduktif
Penalaran abduktif adalah proses berpikir yang digunakan untuk
menghasilkan hipotesis atau penjelasan yang mungkin untuk
suatu fenomena atau peristiwa. Metode ini berfokus pada
mencari penjelasan terbaik dari sekian banyak kemungkinan
yang ada. Contoh penalaran abduktif, misalnya, jika seseorang
menemukan bahwa rumput di halaman basah, mereka mungkin
berhipotesis bahwa hujan telah terjadi. Meskipun ada
kemungkinan lain (seperti sprinkler yang dinyalakan), penalaran
abduktif membantu dalam memilih penjelasan Yang paling
mungkin berdasarkan informasi yang tersedia.
D. Logika Inferensi
1. Pengertian Infererisi
Logika inferensi adalah proses penarikan kesimpulan rasional
berdasarka yang ada Dalam logika, infererisi idenk dengan
penataan dalam satuan argunten a sering disebut sebagai jalur
perialara Jalur penalarani adalah langkah-langkan oglis yang
menghubungkan fakta atau premis dengan kesimpulan yang
dapat diambil darinys Berikut pengertian Inferensi menurut para
ahli
A. Literary Terms, inferensi adalah proses menarik kesimpulan
dari bukti pendukung yang ada Kita dapat membuat kesimpulani
ketika membaca literatur Petunjuk diberikan sien penulis
tentang apa yang forjadi dan kita harus mencari tahu
berdasarkan bukti itu Penulis menyiratkan dari para pembaca
menyimpulkan
b. Collins Dictionary inferansi adalah kesimpulan yang kita tarik
tentang sesuatu dengan menggunakan informasi yang sudahi
kita miliki tentang itu. c. Philosophy Terms inferansi adalah proses menarik
kesimpulan berdasarkan bukti yang ada Berdasarkan beberapa
bukti atau premis, kita membuat sebuah kesimpulan
d. Your Dictionary, inferensi mengacu pada proses observasi
atau pengamatan dan pengetahuan untuk merentukarı
kesimpulari yang masuk akal. Contoh logika inferensi, misalriya, terdapat lima topi pramuka, kemudian tiga topl digunakan oleh para anggota pramuka dan
sisanya disimpan di dalam lemari kosong. Dengan
menggunakan inferensi lögis dapat disimpulkan bahwa ada dua
topi yang tersisa di dalam lerriari. Logika inferensi bekerja
dengan prinisp jika satu hal benar maka ada fakta lain yang juga
benar dan jika fakta tersebut benar maka dapat ditarik
kesimpulan lain yang juga benar
2. Jenis Inferensi
a. Inferensi Langsung
Inferensi langsung atau immediate inference ialah penarikan
kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis, Premis, yaitu
data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya
kesimpulan. Salah satu cara yang digunakan untuk
mempraktikkan penataran langsung adalah dengan melakukan
konversi dengan syarat mempunyai makna yang sama
(ekuivalen) dengan premisnya. Misalnya, prenis semua becak
bukan mobil, memiliki kesimpulan semua mobil bukari becak
b. Inferensi Tidak Langsung
Inferensi tidak langsung atau mediate inference adalah proses
membuat kesimpulan dari dua atau lebih premis yang saling
terkait secara logis. Pada umumnya, kedua proposisi yang telah
ada disebut konklusi, sedangkan proposisi yang dihasilkan dari
Inferensi disebut konklusi. 3. Contoh Logika Inferensi
Berikut contoh logika inferensi. a. Sofia melihat langit mendung dan mendengar beberapa kali
guntur. Sofia menyimpulkan bahwa akan turun hujan. b. Ahmad melihat matahari akan segera tenggelam dan melihat
imam masjid sudah berangkat ke masjid. Ahmad menyimpulkan
akan segera azan Magrib.
E. Bilangan Desimal, Biner, dan Heksadesimal
Sistem bilangan adalah cara untuk mewakili dan menyatakan
beşaran dari suatu item fisik atau konsep matematis. Konsep
dasar dari sistem bilangan melibatkan basis (radix), digit absolut
(absolute value), dan nilai posisional (position value). 1. Desimal
Sistem bilangan desimal adalah sistem bilangan yang paling
umum digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini menggunakan basis 10 dan dapat dituliskan (n)10, yang berarti terdiri dari 10 digit, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan
9. 2. Biner
Bilangan biner adalah urutan bilangan yang menggunakan
sistem basis dua, di mana nilai-nilai yang terlibat hanya
mencakup 0 dan 1. Representasi notasi dari bilangan biner
disajikan sebagal (n) 2 , dan elemen-elemen dasarnya disebut
sebagal digit biner atau bit, yang hanya dapat memiliki nilal 0
atau 1. Nilai tempat sistem bilangan biner merupakan
perpangkatan dan nilai 2. Berikut posisi digit dan nilal tempat
bilangan biner
3. Heksadesimal
Bilangan heksadesimal adalah sistem bilangan berbasis enam
belas, yang menggunakan enam belas simbol untuk mewakili
nilai-nilai numerik. Simbol-simbol ini melibatkan angka 0
hingga 9, serta huruf A hingga F yang mewakili nilai-nilai 10
hingga 15. Urutan nilai dalam heksadesimal adalah 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, dan F. Notasi sistem bilangan
heksadesimal adalah (n) 16. Bilangan heksadesimal sering
digunakan dalam sistem komputer dan digital untuk
menyederhanakan rangkaian angka biner. Contoh penggunaan
bilangan heksadesimal dalam komputer, seperti pemberian kode
warna pada grafis komputer. F. Pemecahan Masalah (Problem Solving)
1. Konsep Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Pemecahan masalah atau problem solving adalah kemampuan
untuk menemukan solusi dari suatu masalah. Problem solving
dilakukan melalui proses berpikir terarah untuk menemukan
solusi yang tepat. Kemampuan ini dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah di berbagai bidang, seperti di dunia
kerja atau dalam kehidupan sehari-hari. Pemecahan masalah
bergantung pada kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab
masalah dengan benar agar solusi terbaik dapat dipilih dan
diterapkan. Berikut pengertian pemecahan masalah (problem solving)
menurut para ahli. a. Menurut Polya (1973:3), pemecahan masalah adalah usaha
mencari jalan keluar dari suatu kesulitan.
b. Menurut Marzano dkk (1988), problem solving adalah salah
satu bagian dari proses berpikir yang berupa kemampuan untuk
memecahkan persoalan. Terminologi problem solving
digunakan secara ekstensif dalam psikologi kognitif untuk
mendeskripsikan semua bentuk dari
kesadaran/pengertian/kognisi. C. Menurut Saad & Ghani (2008:120), pemecahan masalah
adalah pemecahan masalah tertentu melalui proses yang
direncanakan yang mungkin tidak dapat dicapai dengan segera. Menurut Djahiri (1983:133), metode problem solving
memberikan beberapa manfaat sebagai berikut. a. Membantu individu untuk mengidentifikasi dan
menyelesaikan masalah dengan cepat dan efisien, yang
mengarah pada peningkatan produktivitas. b. Memungkinkan individu untuk membuat keputusan yang
lebih baik dengan menganalisis situasi dan mempertimbangkan
semua solusi yang memungkinkan. c. Mengharuskan individu untuk berkomunikasi secara efektif
dengan orang lain untuk mengumpulkan informasi dan bekerja
secara kolaboratif untuk menemukan solusi. d. Mengharuskan individu untuk berpikir di luar kebiasaan dan
menghasilkan solusi kreatif untuk masalah yang kompleks. Ada empat tahapan pemecahan masalah menurut Polya (1973). Empat tahapan tersebut sebagai berikut. a. Memahami masalah (problem understanding), memahami
masalah dalam menyelesaikan masalah dapat dilakukan dengan
mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan masalah
tersebut, di antaranya apa yang diketahui dari soal, apakah yang
ditanyakan soal, apa saja informasi yang diperlukan, dan
bagaimana menyelesaikan soal tersebut. b. Merencanakan penyelesaian masalah (devise a plan), dalam
mengidentifikasi strategi yang tepat untuk menyelesaikan
masalah, hal yang perlu diperhatikan adalah apakah strategi
tersebut berkaitan dengan permasalahan yang akan dipecahkan. c. Melaksanakan rencana (carry out the plan), melaksanakan
penyelesaian soal sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Kemampuan memahami substansi materi dan keterampilan akan
sangat membantu dalam melakukan rencana penyelesaian
masalah. d. Merneriksa ulang jawaban (look back at the completed
solution), menentukan apakah hasil penyelesaian yang kita
temukan dapat diterima sebagai penyelesaian masalah, atau
dilakukan penyelesaian kembali karena terdapat beberapa hal
yang keliru sehingga jawabannya tidak dapat
dipertanggungjawabkan. 2. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah proses mengenali dan
mendefinisikan masalah yang akan diteliti dalam sebuah
penelitian. Identifikasi masalah menjadi langkah awal yang
penting dalam penelitian. Pada tahap ini, peneliti berfokus untuk
memahami dengan jelas apa yang menjadi kendala atau
hambatan, serta mengapa hal tersebut menjadi masalah. Diperlukam sekumpulan data untuk melakukan identifikasi
masalah. Data sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu data
kuantitatif dan data kualitatif. 3. Brainstorming atau Curah Pendapat
Brainstorming atau curah pendapat adalah teknik untuk
mengumpulkan ide, pendapat, dan pengalaman secara spontan
dan kreatif untuk mencari solusi dari suatu masalah. Brainstorming dapat dilakukan secara individu atau kelompok. Tujuannya adalah untuk menghasilkan ide yang banyak dan
berkualitas tinggi dalam waktu singkat. Proses brainstorming
dapat dilakukan dengan tiga langkah Brainwriting,Role-play dan
Round robin brainstorming
4. Alternatif Pemecahan Masalah
Alternatif pemecahan masalah (alternatif solusi) adalah pilihan
yang terdiri atas beberapa rumusan yang dapat dijadikan sebagai
solusi bagi permasalahan. Berikut beberapa alternatif
pemecahan masalah
a Pemilihan Masalah
1) Mendefinisikan masalah, mulailah dengan membaca masalah
sepenuhnya setidaknya dua kali. Tentukan konteks setiap kata
kunci. Jika waktu memungkinkan, lakukan penelitian tentang
masalah. 2) Fokus pada satu masalah, cobalah untuk menyatakan kembali
masalah dalam pemahaman pembaca sendiri. Cari tahu dari
orang yang mengajukan masalah apakah masalah yang disajikan
sama dengan masalah aslinya. 3) Melihat masalah dari berbagai sudut pandang, setiap
perspektif dapat mengungkapkan informasi tambahan tentang
masalah. Masalah harus dibedakan dari gejalanya sehingga akar
penyebabnya diidentifikasi dan dinyatakan dengan benar. b Analisis Masalah (Analyze the Problem)
Tujuan dari analisis masalah adalah untuk mendapatkan
pemahaman yang lebih baik tentang masalah yang dipecahkan
sebelum pengembangan di mulai. Penting untuk mengetahui
mengapa masalah itu terjadi, kapan, dan seberapa sering. Alat, seperti fishbone diagram atau pareto chart dapat membantu
memvisualisasikan masalah. c Daftar Solusi Alternatif (Identify
Alternative Solution)
Masalah dimulai dalam keadaan tertentu dan pemecah masalah
menginginkan masalah dalam keadaan lain. Oleh karena itu, pemecahan masalah adalah penerapan ide, keterampilan, atau
informasi aktual untuk mencapai solusi atas suatu masalah atau
mencapai hasil yang diinginkan. G. Prinsip Pemikiran Komputasional
Pemikiran komputasional memiliki empat prinsip atau pilar. Berikut keempat pilar tersebut. 1. Decomposition (Penguraian)
Dekomposisi adalah proses memecah suatu permasalahan
kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih
mudah dikelola. Dengan membagi masalah besar menjadi
beberapa submasalah, pemecahan masalah menjadi lebih efisien
karena setiap bagian dapat dianalisis dan diselesaikan secara
terpisah sebelum digabungkan kembali untuk membentuk solusi
menyeluruh. Langkah-langkah dekomposisi masalah sebagai
berikut. a. Analysis, adalah suatu kegiatan menganalisis suatu masalah
kompleks dan rumit agar bisa dipecah menjadi beberapa
masalah yang lebih kecil dan lebih sederhana.
b. Parallelization, adalah proses mengelompokkan submasalah
yang memiliki cara penyelesaian yang sama sehingga dapat
mempersingkat waktu mencari penyelesaian masalahnya. c. Synthesis, adalah suatu proses untuk menggabungkan kembali
masalah yang telah dipecah-pecah menjadi masalah yang utuh. 2. Pattern Recognition (Pengenalan Pola)
Pengenalan pola adalah kemampuan untuk mengidentifikasi
kesamaan atau keteraturan dalam suatu kumpulan data atau
permasalahan. Dengan mengenali pola yang muncul secara
berulang, seseorang dapat mempercepat proses pemecahan
masalah karena dapat menggunakan solusi yang telah diterapkan
sebelumnya dalam situasi yang serupa. Langkah-langkah pengenalan pola sebagai berikut. a Identifikasi hal-hal umum dalam masalah. b. Identifikasi perbedaan di antara elemen-elemen dalam
masalah. c. Identifikasi elemen-elemen dalam masing-masing masalah. d. Mendeskripsikan pola yang sudah teridentifikasi. e. Membuat prediksi berdasarkan pola yang teridentifikasi. 3. Abstraction (Abstraksi)
Abstraksi adalah proses menyaring informasi yang tidak relevan
dan hanya mengambil aspek-aspek penting dari suatu masalah
atau sistem. Dengan menggunakan abstraksi. seseorang dapat
lebih fokus pada inti permasalahan tanpa terganggu oleh
detail-detail yang kurang signifikan. Langkah-langkah dari
proses abstraksi sebagai berikut. a. Mengumpulkan submasalah dari hasil dekomposisi. b. Menentukan skala kebutuhan dari submasalah tersebut
terhadap seberapa besar dampak dari masalah tersebut terhadap
masalah kompleks. c. Menghilangkan submasalah yang memiliki skala kebutuhan
tidak terlalu penting hingga tidak penting. 4. Algorithm Design (Desain Algoritma)
Algoritma adalah serangkaian langkah atau instruksi yang
disusun secara logis dan sistematis untuk menyelesaikan suatu
masalah. Algoritma harus memiliki struktur yang jelas, terdin
dari langkah-langkah yang berurutan, dan dapat dieksekusi
dalam waktu yang terbatas untuk menghasilkan output yang
diharapkan. Adapun langkah-langkah dalam pemikiran algoritma sebagai
berikut. Definisi masalah. Pengembangan model. Spesifikasi algoritma. Merancang sebuah algoritma. Memeriksa kebenaran algoritma. Analisis algoritma
Implementasi algoritma.
Pengujian program. Persiapan dekomentasi. A. Deskriptif
Penyajian algorima deskriptif adalah penyajian algoritma dalam
bentuk uraian langkah-langkah menggunakan bahasa yang
mudah dipahami, baik dalam bahasa alami maupun bahasa
teknis yang lebih terstruktur seperti bahasa Indonesia atau
bahasa Inggris. Penyajian ini tidak menggunakan simbol atau
aturan khusus sehingga lebih fleksibel dalam menjelaskan
konsep algoritma. Kelebihan dari algoritma deskriptif adalah
kemudahannya untuk dipahami oleh orang yang belum familier
dengan pemrograman, tetapi kurangnya standardisasi dalam
penulisannya bisa menyebabkan ambiguitas dalam interpretasi. Bentuk penulisan notasi algoritma deskriptif disarankan untuk
algoritma yang pendek. B. Flowchart
Flowchart adalah representasi visual dari algoritma yang
menggunakan simbol-simb standar untuk menggambarkan
urutan proses secara sistematis. Dengan menggunak flowchart, alur logika suatu algoritma dapat lebih mudah dipahami dan
divisualisasika terutama dalam tahap perancangan sebelum
implementasi dalam kode program
C. Pseudocode
Pseudocode adalah cara penyajian algoritma menggunakan
struktur yang menyerupai bahasa pemrograman, tetapi tetap
dapat dibaca tanpa mengikuti sintaksis spesifik dari bahasa
pemrograman tertentu. Keunggulan pseudocode adalah
kemampuannya untuk menjembatani konsep algoritma dengan
implementasi dalam kode pemrograman sesungguhnya sehingga
sering digunakan dalam tahap perancangan program sebelum
menulis kode secara nyata. Pseudocode terdiri atas tiga bagian
sebagai berikut. 1) Judul algoritma, berisi nama algoritma dan penjelasan
(spesifikasi) dari algoritma tersebut. 2) Deklarasi, mendefinisikan semua nama yang digunakan di
dalam program. Misalnya, nama tetapan, peubah atau variabel, tipe, prosedur, dan fungsi. 3) Deskripsi, uraian langkah-langkah penyelesaian masalah
yang ditulis dengan menggunakan aturan-aturan
5. Contoh Kasus
Metode computational thinking dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Berikut ini beberapa contoh kasusnya. a. Dekomposisi
Dalam pengembangan perangkat lunak, dekomposisi melibatkan
pembagian tugas di antara tim pengembang. Sebagai contoh, seorang pengembang dapat fokus pada antarmuka pengguna, sementara yang lain bertanggung jawab untuk pengolahan data, dan lainnya mengurus keamanan. b. Pengenalan Pola
Dalam pembuatan kue bronis, pengenalan pola melibatkan cara
berpikir secara detail tentang bahan-bahan yang digunakan, seberapa banyak yang digunakan, dan alat-alat yang diperlukan. Makin sering membuat makanan tersebut, otak akan ferbiasa
dengan pola pembuatan bronis tersebut. c. Abstraksi
Dalam pemesanan makanan secara online, abstraksi dilakukan
dengan kita tidak perlu memberikan rincian resep atau
bahan-bahan spesifik. Memesan makanan dengan menyebutkan
jenis makanan yang diinginkan, jumlahnya, dan alamat
pengiriman, tanpa harus memberikan detail tentang proses
memasak atau bahan-bahan yang digunakan. d. Algoritma
Dalam pembuatan jus, algoritma dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut. 1) Menyiapkan alat dan bahan, seperti blender, pisau, gelas, alpukat, air, susu kental
manis, dan gula. 2) Belah alpukat menjadi 2, buang bijinya, dan
potong-potong alpukat. 3) Masukan potongan alpukat ke dalam blender. 4) Tambahkan air dan gula ke dalam blender, tutup blender, tekan tombol on, dan tunggu beberapa saat. 5) Jika ingin jus alpukat tanpa susu kental manis, tuangkan jus
ke dalam gelas kosong. 6) Jika ingin menggunakan susu kental manis, tambahkan susu
kental manis ke dalam pinggiran gelas, lalu tuangkan jus alpukat
ke dalam gelas yang sudah ditambahkan susu kental manis. 7) Jus alpukat siap dihidangkan. KESIMPULAN
Kesimpulannya, logika, penalaran, sistem bilangan, pemecahan masalah, dan pemikiran komputasional merupakan dasar penting dalam berpikir
rasional dan terstruktur. Proposisi, penalaran deduktif, induktif, abduktif, serta inferensi membantu dalam menarik kesimpulan yang logis. Sistem
bilangan desimal, biner, dan heksadesimal mendukung komputasi, sedangkan problem solving melatih berpikir kritis dan kreatif. Prinsip
pemikiran komputasional seperti dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma membantu menyederhanakan masalah kompleks agar lebih
mudah diselesaikan. Dengan menguasai konsep-konsep ini, seseorang
mampu berpikir analitis dan sistematis dalam menghadapi berbagai
persoalan.
Comments
Post a Comment